May 15 2008
Terible UN….hhhh
UN… momok yang menakutkan? Hmmm… dua anak les-anku yang
kelas 6 SD cukup merepotkanku di saat-saat UNnya. Tiap malam datang ke rumah…
kahn mau UN…
“ Kak… kami tadi dapat pengawas baik. Dikasih tahu
jawabannya, trus pas ibu Ida mau ngasih tahu jawaban ke kami, diizinkan”
Hhhaaaa!! Astaghfirullah.. aku tak tahu mau comment apa.
Sejujurnya, aku benar-benar pusing, capek, baru pulang setelah adzan magrib
berkumandang. Belum mandi… kenapa juga cerita pembukanya seperti ini.
Ku tutup kupingku, benar-benar tak ingin mendengar ceritanya
lebih jauh.
Di Medan, guru yang membocorkan soal UN untuk anak-anaknya
di jebloskan ke penjara, hhh… tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah sikap
anak-anak muridnya yang berdemontrasi demi sang guru. Sungguh sangat aneh
mendengar mereka menyanyikan lagu “terima
kasih guru”… dengan air mata terima kasih yang tak terbendung.
“ Terima kasihku kuucapkan pada guruku yang tulus, ilmu yang
berguna selalu dilimpahkan untuk bekalku nanti…”
Lagu merdu ini jadi kedengaran amat sangat cempreng sekali
di momen itu. ilmu macam apa? My GOD… ilmu yang diberikan untuk menjawab
soal-soal UN itu? ooohhh…
Sistem pendidikan
Indonesia
yang membuat guru-guru memberikan begitu saja ilmu. Mengajarkan dengan sisitem
“gue ngomong lu denger” memang sangat relevan dengan system evaluasi “UN” ini.
idealnya semua yang sudah dikasih bulat-bulat oleh guru dapat diterima
bulat-bulat juga oleh murid, dihafalkan dan diaplikasikan untuk MENJAWAB
SOAL-SOAL UJIAN. Yah… semua berorientasi ke ujian.
Kelas 3 adalah saat-saat menegangkan, hari-hari melelahkan
dengan les sana-sini. Privatelah, bimbellah, hiiiihhh… sampai-sampai suatu saat
temanku mengadukan hal yang kembali membuatku miris.
“ Rasonyo sedih nian… pas adek-adek bilang dak bisa lagi KM.
karena dah kelas 3”
Bahkan lingkaran yang tidak sampai 2 jam itu tak mampu lagi
mereka bentuk, semua terfokus pada hari-hari penentu title keberhasilan mereka
di bangku sekolah. Tak ada waktu lagi untuk yang lain… bahkan untukNYA?
Hhhffhhh…. Siapa yang harus disalahkan? Saat guru-guru tidak
mampu lagi menyadari hakikat pendidikan sesungguhnya. Ia tak rela meninggalkan
perannya menjadi actor utama pembelajaran, siswa hanya menjadi pendengar pasif.
Pendidikan termaknai hanya menjadi sekedar pengajaran. then u see? Ia terwujudkan
dalam metode-metode drilling, hafalan. Dan evaluasinya adalah ujian pilihan
ganda yang tentu saja tidak menguji aspek penalaran siswa.
So? Bimbel-bimbel dengan jargon-jargon yang semakin
menguatkan interpretasi kesuksesan proses pembelajaran yang eeeukhhh… Smart
solution, king solution dll dsb deh… semakin mengaduk-aduk otak pelajar-pelajar
Indonesia
. yang
penting lulus… yang penting lulus…
Komisi Internasional UNESCO untuk memasuki abad 21
merekomendasikan 4 pilar belajar: 1) learning to know 2)learning to do
3)learning to live together 4)learing to be…fffhhh… can you see that 4 pilar in
this terrible Indonesia’s education? how cud…yang ada dalam pikiran siswa, guru
dan kepala sekolah adalah pencapaian kognitif saja yang diukur semata-mata pada
nilai UN yang harus mencapai minimal….untuk dapat lulus
Tidak heran kahn? Bermula dari system yang terrible, proses
yang tidak involve siswa, dan berakhir dengan kasus-kasus yang mewarnai
evaluasinya. Terbutakan mata hati guru, memberikan bocoran, memberikan jawaban
saat UN, adalah langkah menyedihkan untuk mencintai siswa, dan langkah yang
great untuk menyelamatkan status sekolah yang dulu-dulunya selalu lulus 100%,
langkah yang hebat untuk menjaga nama baik sebagai seorang guru sukses yang
berhasil mengantarkan semua anak-anaknya lulus sekolah.
“ Kak… kata ibu Ida… kalau Ibu nanti ketahuan terus
dipenjara gara-gara ngasih tahu kami jwaban yang benar. ibu rela… sayang banget
ya ibu ke murid-muridnya”
Ffiuh… sayang??? Gerah… mandi ah!
No responses yet