Apr 30 2008
I’ve become so numb
masih adakah titik cahaya?
terangi asa yang lah enggan tersenyum
menanti takdir berucap apa
terbaikkah yang indah di mata?
Apr 30 2008
masih adakah titik cahaya?
terangi asa yang lah enggan tersenyum
menanti takdir berucap apa
terbaikkah yang indah di mata?
Apr 30 2008
Allah… takdirku dalam genggamMU
lah tertulis di lauh mahfuz sana
tapi mengapa hatiku masih resah saja
menanti kenyataan itu datang
akan indahkah yang terbaik darimu? indakkan ya ALLAH..
indahkan ia di mataku
bia tak sesuai yang kuharapkan
mudahkan aku menemukan
merasakan
keindahan itu
bahwa indah semua…
yang terbaik dariMU
untukku
Apr 09 2008
Saat Tak Ada Lagi Kepedulian
Pagi itu aku menyempatkan atau lebih tepatnya terpaksa menyempatkan diri mengantarkan keponakanku sekolah. Aisyah yang masih duduk di playgroup itu kuantarkan sampai gerbang depan saja. Saat bersiap melanjutkan perjalanan ke kemapus, keponakanku yang lucu itu tersungkur, posisi yang sangat tidak menyenangkan untuk kulihat. Kedua kakinya terlipat, dengan suksesnya tanah di jalan mengotori celananya. Ia menangis histeris khas anak-anak sambil tak lupa memanggil mamanya…
“huwaaaa…. Mama… huwaaa…mamaaaaaaa” . Ia bertabrakan dengan seorang anak yang lebih besar yang juga baru diantarkan oleh ibunya. Anak yang berseragam TK itu menatap Aisyah bingung. Aku batal melanjutkan perjalanan, dengan perasaan tak karuan mendengar tangisan keponakan tersayangku itu.
Aku membantu Aisyah berdiri. Mencek beberapa bagian tubuhnya kalau-kalau terluka. Kubersihkan celana panjang birunya yang kotor. Si ibu yang mengendarai motor itu, …. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya… saat fokus pada Aisyah aku hanya mendengar pertanyaan singkatnya
“ Kenapa sih?” dengan nada ingin mengetahui penyebab Aisyah jatuh. Yah dengan jelas penyebabnya adalah Aisyah bertabrakan dengan anaknya, hiii…
Sembari menghapus airmata Aisyah yang masih histeris menangis aku menjawab pelan, “Enggak apa-apa, aisyah tadi gak liat-liat juga!”
“ Udah Kak, masuk… nggak apa-apa kok. Masuk!” kata sang Ibu yang tak lama memacu maju motornya meninggalkan kemacetan kecil di depan TK itu.
Aku belum ingin mencerna kecamuk hatiku, masih mencoba membujuk Aisyah dan mengantarkannya menuju kelasnya.
Sepanjang perjalanan hatiku mencoba mengurai kecamuk itu. Tak jauh dari tempat Aisyah jatuh tersungkur, tak terasa airmataku berlinang. Coba mengingat untaian peristiwa tadi.
Aisyah yang selalu bersemangat melewati jalanan pagi sekolahnya yang ramai, si anak berjilbab putih yang mencium takzim tangan sang ibu, lalu saat anak itu mundur 1 langkah dan Aisyah berjalan di belakangnya, ia menabrak Aisyah, suara sang ibu yang entahlah….menanyakan penyebab Aisyah jatuh. Hatiku perih seketika saat terngiang kalimat yang sangat jelas di telingaku.
“ Udah Kak, masuk… nggak apa-apa kok!”
Ketidakpedulian adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Saat hatiku menclos melihat Aisyah jatuh, mendengar tangisnya yang menambah keramaian sekolah, saat aku masih ingin mencek adakah luka yang tertoreh di tubuh gadis mungil itu. Dengan entengnya sang ibu mengatakan “nggak apa-apa”, padahal di mata anaknya sempat kutangkap sebentuk rasa bersalah. Mungkin kemudian ia sirna dilenyapkan kata “nggak apa-apa” dari ibu.
Bukan… bukan rasa bersalah yang kuharapkan dari sang ibu. tapi. Tapi bukankah tak ada yang salah dengan kepedulian? tak ada yang salah dengan menanamkan kepedulian pada anaknya? Bahkan cukuplah rasa itu ia wujudkan dengan tidak mengatakan kata “ “Udah Kak, masuk… nggak apa-apa kok. Masuk?”
Kepedulian kepada sesama yang semakin hilang, remuk, redam dimakan zaman. Menanamkan kepedulian kepada sesama merupakan keharusan bagi ibu masa kini. Uuufhh… biarlah … I don’t what to say anymore. Key!! If I have children… I will not be like her.
Apr 09 2008
Yang memilih sepi kian menjadi
Sendiri kian sendiri
Tak kan kau temukan ramai
Dalam cinta tak bermakna
Yang kau bunuh bersama dirimu
akhiri semua adalah pilihanmu
salah cinta atau salahmu?
saat ia tak kunjung menyapa
tahukah engkau?
gelap itu
sepi itu
melebihi yang telah kau miliki