Nov 27 2007
KETIKA MAS GAGAH PERGI
Cerpen lama dari mbak HTR… subhanallah… aku ingat dulu cerpen ini ku baca waktu masih SD… tapi lupa.. kelas berapa ya? Dulu banget waktu An-Nida masih belum sepopuler sekarang…. Waktu covernya masih bunga-bunga, sederhana… tapi sejuk… ah jadi kangen An-Nida dulu.
Yang paling ku ingat adalah… membaca majalah itu diam-diam. Majalah yang disembunyikan oleh kakakku di atas lemari karena kebiasaan burukku membaca sambil tidur , makan, minum atau apa pun yang sering membuat majalah atau bukunya jadi keriting-keriting.
Aku ingat sebelum aku tahu di mana majalah itu disembunyikan…dengan semangat 45 ditambah penasaran dan sebel…pelit banget lah si kakak… aku obrak-abrik seisi kamar. Huwaaa… di atas lemari pakaian kuraba-raba cover majalah yang masih halus lembut… I got it!!
Kulihat kiri-kanan depan belakang… aman. Ku ambil majalah An-Nida berwarna… apa ya? Duh lupa… Ketika Mas Gagah Pergi… sebuah judul besar tertera di cover itu. rasanya senang sekali… baca majalah An-Nida…
Tak jauh dari lemari… aku duduk di lantai… membuka halaman demi halaman… membaca kias demi kias. Ketika Mas Gagah Pergi…
Pertamanya sih senyum-senyum… lucu dan yah menyenangkannya punya kakak cowok, ikhwan lagi… hmmm secara punya saudara cewek semua…mana pelit ini.
Next…. Aku membaca… membayangkan sosok mas Gagah. Terbayang olehku satu sosok yang sering kulihat di masjid tempat aku mengaji TPA dulu… seseorang berwajah bersih, rapi, berjenggot, yang rajin solat ashar berjamaah di masjid. Mas Gagah…
Dan kemudian… “hhhhiks…. Hiks… huwaaaa…” aku tak dapat menahan air mata yang menetes-netes membasahi majalah baru itu, padahal baru sampai di paragraf mas Gagah kecelakaan… dan tangisku semakin luruh… Mas Gagah telah tiada. Dan tangisku tak henti… apalagi saat membaca pesan terakhirnya untuk Gita… tak terasa aku hanyut benar dalam cerpen itu. padahal biasanya aku hanya membaca sekilas tapi saat itu tak ada kata yang terlewatkan… tidak satu pun.
Dan halaman-halaman kias Mas Gagah keriting oleh air mataku. Cepat ku tutup majalah itu dan kuletakkan di tempat semula.. sorry sist..
Eukh… aku benar-benar lupa. Kelas berapa ya waktu itu? entahlah… yang pasti lebih dari 1 windu yang lalu.
Dan sekarang, saat membuka-buka file copy-an teman, aku menemukan cerita itu lagi… Eh tunggu-tunggu ternyata ada ditulis di akhir cerita…HTR, Depok, 1993… hmmmh berarti waktu itu aku duduk di kelas 2 atau kelas 3. wuagh… 14 tahun yang lalu…
hmmhh… ku baca lagi… dan lucunya dari paragraf pertama air mataku malah tak bisa ku bendung lagi. Sudah tergambar kesuluruhan cerita mengharu biru itu…. hiks hiks…
“Mas…, ini Gita, Mas…,” sapaku berbisik.
Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai.. jilbab,” lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.
Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.
“Dzikir…, Mas,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas Gagah yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang…
“Gi…ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali!
“Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matamya terbuka. Aku tersenyum.
“Gita… udah pakai… jilbab…,” kutahan isakku.
Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.
“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…,” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.
Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…, sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali!
Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan Mas Gagah tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas Gagah semakin pucat. Tapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.
Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…, Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
“Laa…ilaaha…illa…llah…, Muham…mad…Ra…sul…Al…lah…,” suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.
Mas Gagah telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.
Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi.
Selamat jalan, Mas Gagah !
–=oOo=–
(Epilog)
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi,
Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun Sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah !
No responses yet