Oct 17 2007
Rest in Peace
Blink_25
28 November 2004 – 17 Oktober 2007 (pelajaran tentang konsistensi)
uuffhh… Ramadhan penuh berkah ( amiin). Diawali dengan musibah… dan diakhiri dengan musibah… pelajaran dari Allah.
Telah berpulang ke rahmatullah… ia yang telah 3 tahun mengisi hari-hariku, mengisi hidupku, mengisi hatiku, ia mimpi-mimpiku. Kepergiannya adalah pelajaran tentang konsistensi, pelajaran tentang komitmen, tentang egoisme… selfishness.
Dan tentangnya adalah pengorbanan, kesetiaan, mimpi, persahabatan, persaudaraan, kesabaran, ketabahan, perjuangan, kedewasaan, kegigihan, ketegaran, kekuatan, keseriusan, ketulusan, keteguhan (ada yang mau menambahkan ling?biy?yud?dhal?yt?)
Apakah mungkin karena lahirnya prematur, saat organ-organ yang akan menjalankan hidupnya belum sempurna benar. Hingga mati muda layaknya Chairil Anwar pun bukan menjadi takdirnya… ia meninggal dunia di usianya yang tak sampai lima tahun.
Begitu cintanya aku padanya… Tidak!! cintaku padanya tak melebihi cintaku pada saudara-saudaraku. Begitu seringnya aku menyakiti bukan karena sengaja tuk menyakiti, bukan karena aku tidak mencintai saudaraku sendiri… semua adalah wujud cinta yang mungkin belum dewasa. Uhibbukumfillah… insya Allah.
Cintaku padanya adalah cintaku pada kalian semua… biarlah sakit saat semua ini berakhir. Biarlah berakhir, saat tak semua kalian ada di sana… uhibbukumfillah insya Allah
Ku ingin sejenak lupakan kata ‘ego’, saat kepergiannya masih membiru di hati. Kenapa kata itu yang selalu menjadi poin utama? Egokah yang berbicara, saat komitmen berbuah konsistensi, saat konsistensi berjawab konsekuensi… membunuh ia, membunuh mimpi.
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allah… mungkin ini yang terbaik dariMu.
Terima kasih atas semua… Saudara-saudaraku… yang kucintai karena Allah. Mungkin ini yang terbaik untuk kita … yah… mungkin dengan perpisahan kita kan mengerti arti pertemuan. Mungkin ini jawaban atas do’a2 Ramadhan kita… Mungkin ini koreksiNya atas kesalahan-kesalahan kita. Mungkin ini pelajaran atas ketidakkonsistenan kita selama ini. Pelajaran yang berat bukan? Yah luka yang akan terus membekas ini semoga selalu mengingatkan kita untuk berjuang menjaga sebuah konsistensi. Seperti yang kita lakukan saat ini, seperti luka ini…
(Saat embun pagi bersahaja menemani sebelum cahaya…
Ba’da kupatuhi panggilan saudaraku untuk mengadu padaNya
Ketika keangkuhan sejenak luruh
Ketika ketenangan penuhi hati gantikan kecewa yang sempat sesakkan dada
Ah… belum ikhlas memang…
Dan ketika air mata masih setia menemani
Selamat jalan sahabat…18 oktober 2007 03.30)
No responses yet