May 25 2007

luvugod

Terapi Tawa… How Can? Saat Tangis Lebih Tenang dan Ingatkan….

Posted at 8:24 pm under Uncategorized

Menangislah,
agar tangisan itu, dapat mengingatkan kita pada hari-hari mati
Yang
pastinya datang tanpa bertanya usia… siapa kita di belantara hidup
ini
Hidup
sementara, dunia hanya pinjaman. Ciptaan Illahi Yang Maha Kuasa

Yang
Maha Kuasa.

Uffh… entah kata apa yang bisa menggambarkan
perasaan ini saat menyaksikan berita ’aneh’ bin ’serem’ itu.
Bagaimana tidak, ritual tertawa tak tentu arah itu dimaksudkan
sebagai sebuah alternatif olahraga. Oh No!! Pun bila itu memang
benar, aku lebih memilih lari 4 kilo daripada tertawa tak tentu arah
seperti itu

Yah… di salah satu siaran berita, aku
menyaksikan satu berita yang… iiiiich…. sekelompok orang tertawa
terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka. Tertawa yang kata ahli
yang bersangkutan bisa berpengaruh baik pada saraf gitu2 deh!!


Bukan Cuma serem, tapi aku juga malu melihat tawa mereka,
astaghfirullah bukankah tawa bisa menurunkan izzah. Lah ini, walaupun
tujuannya adalah olahraga, tetap saja tawa tak tentu arah itu membuat
mereka terlihat seperti… maaf… orang gila.

Bukankah Rasulullah memerintahkan kita untuk memadamkan air mata
dengan tetes air mata.

Terlepas dari benar tidaknya hal baru itu. Aku
punya pendapat sendiri tentang tawa dan air mata.

Tawa idealnya dihasilkan saat kita senang. Tawa
kadang menjadi sangat melegakan dan nikmat yang subhanallah untuk
kita. Tapi aku sering merasa risau jika terlalu banyak tertawa.
Setelah ini apa lagi yang akan ku alami..
akankah menangis sedih. Sebuah pengalaman…

Suatu hari, aku dan teman-temanku lagi
ngumpul-ngumpul.
Sekedar menghabiskan waktu
bersama. Dan nyambi latihan… Ntah kenapa, kami merasa sangat
senang, dan ada saja yang membuat kami tertawa. Tertawa dan terus
tertawa. Candu tawa yang membuat kami senang tak tentu arah… hingga
kami beristighfar… what’s gong on hi frenz?. Tawa malah membuat
kami risau kemudian… ampunkan kami Robbi… beberapa jenak
melupakanMU.

Esoknya, aku menangis… bukan tawa lagi yang
menghiasi petangku. Uufh… kecelakaan itu terjadi, dan salah satu
teman tertawaku adalah orang yang kugonceng. Ia jatuh dan harus
dibawa ke Rumah Sakit. Uufhh…. kecelakaan pertama yang kualami,
kecelakaan yang tak melukai aku sedikitpun, tapi temanku…
astaghfirullah… Allah dan hari itu aku tak bisa lagi tertawa. Aku
menangis… hanya tangis.

Dan air mata umumnya keluar saat hati merasakan
nuansa melankolis yang beraneka ragam, bisa sedih, terharu bahagia,
trenyuh, terharu sedih, gundah dll.
Dan air
mata selalu menenangkan. Dan air mata selalu mengingatkan, akan
cinta, akan Dia, akan akhirat yang menunggu, akan…

Sebuah buku yang sudah lusuh -mungkin karena
bolak-balik dibaca oleh pemiliknya- sungguh!! Tidak pernah menarik
perhatianku untuk membacanya. Sudah lama buku itu berada dalam
jejeran buku di meja kosan temanku. dan kali itu aku juga tetap tidak
tertarik untuk membacanya. Buku berjudul ” Biar Cinta Bicara” itu
kupikir adalah buku cinta kebanyakan. Bosen ah!! Tapi entah mengapa
tanganku mengambil buku itu dari tempatnya. Yang lain memilih untuk
tidur siang menunggu ashar tiba… ba’da ashar ada acara yang harus
kami hadiri.

Hmm, mata ini mengantuk, tapi ntah mengapa enggan
aku tidur. Kumulai membuka lembar demi lembar buku yang subhanallah
itu. Setiap cerita berhasil membuatku menitikkan air mata. ” Tadi
pas aku jatuh, aku udah ngerasa senang karena akan bertemu Allah,
Ry!! Tapi….”. Allah aku juga rindui-MU, tapi aku belum siap tuk
menghadapMU. Akankah kulihat wajahMU.

Lembar demi lembar, tetes demi tetes air mata.
Gemuruh nan tenang… sungguh. Selesai membaca… tak sabar
kulabuhkan galau itu dalam ruku’ dan sujud. Ashar…


Ahhhh… semakin air mata…. semakin air mata….


Lega…


Bilapun tertawa-tawa seperti orang gila itu bisa membuat sehat
pelakunya. Biarlah, masih banyak olahraga lain. Mmm… bilapun
tertawa-tawa seperti orang gila itu diniatkan sebagai olahraga…
Ahh…. naudzubillah… bila maut menjemput saat itu.

Dan tangis lebih menenagkan, moga setiap tetes airmata mengingtMu
akan padamkan api neraka itu. Amiien…

One response so far




One Response to “Terapi Tawa… How Can? Saat Tangis Lebih Tenang dan Ingatkan….”

  1.   Septianon 27 May 2007 at 7:36 pm 1

    Dan saat kematian umar..
    semua mata iman menangis
    asa yang sempat putus dan
    bertanya..
    Kapankah datang lagi gerangan sosok yang banyak menangis namun ditakuti kaisar dan kisra?
    bahkan syaithon pun lari menjauhinya..

Comments RSS

Leave a Reply