Jan 17 2007

luvugod

Paku

Posted at 7:54 pm under Uncategorized

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ketika ia memanggil anaknya dan emberinya sekantong paku, Paku? Ya, paku!

Sang anak heran. Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata bijak kepada anaknya agar memakukan sebuah paku dip agar belakan rumah setiap kali marah. Ajaib!

Di harip pertama, sang anak menancapkan 48 paku! Begitu juga di hari kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya. Tapi tak berlangsung lama. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwwa lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan begitu banyak paku ke pagar.

Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak telah bisa mengendalikan amarahnya. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari di mana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan ank laki-laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ditancapkannya. Ia bergegas melaporkanm kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bengkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakan rumah itu.

“ Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya,” kata I ayah bijak.

Sang ayah sengaja memotong kalimatnya pendek-pendek agar si ank bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ankanya itu.

“ ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau kepada seseorang., lalu mencabut p[isau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik,” ucap sang ayah lembut namun sarat.

Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghunjam relung hatinya

Teman, saling memaafkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi, berhati-hatilah teman. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi.

Basi kali ya…? yach whateverlah!! Karena terkadang yang basi bisa menjadi begitu aktualnya pada kondisi yang berbeda. Begitu juga dengan artikel ini. setelah kejadian itu rasanya… artikel ini benar-benar berarti, memberikan pelajaran hidup.

Hmmm… selagi udaraNYa masih bisa kuhirup, selagi mulut masih bisa berucap maaf, selagi tangan masih bisa menjabat, selagi pikir masih bisa mengenang, selagi hati masih bisa menyesal. I’m sorry for all, that i’ve hurt you so many times …. frenz… may be it is too late. But better late than never, ya kahn???!!

No responses yet




Comments RSS

Leave a Reply